Critical Thinking

Puisi dari bahasa satu ke bahasa lainnya, seperti

Puisi berkembang cukup pesat di Indonesia, banyak puisi yang menarik yang sebelumnya puisi tersebut diterjemahkan dari bahasa satu ke bahasa lainnya, seperti puisi berbahasa Inggris dan berbahasa Arab yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Banyak penyair terkenal dari berbagai negara. Puisi merupakan salah satu bentuk kesusastraan. Umumnya karya sastra terbagi menjadi dua yaitu: puisi (?????) dan prosa (?????). Imajinasi penyair merupakan salah satu proses terciptanya puisi. Puisi merupakan karya sastra yang dikarang secara imajinatif dan ekspresif dengan menggunakan bahasa yang bervariasi agar tercipta kesan yang menarik. Bahasa yang menarik mampu menimbulkan minat dan rasa keingintahuan pembaca. Keindahan bahasa dapat dilihat di dalam penggunaan bahasa figuratif. Bahasa figuratif penting dalam sebuah karya sastra, khususnya puisi. Bahasa figuratif atau gaya bahasa yang penggunaan makna bahasanya menyimpang dari pemakaian yang biasa, baku, atau urutan kata bertujuan mencapai suatu efek tertentu yaitu keindahan. Salah satu  penyair terkenal di Yaman adalah Shalih bin Ali Al-Hamid dengan salah satu karyanya adalah kumpulan puisi di dalam buku yang berjudul al-A’mal as-Syi’riyah al-Kamilah. Puisi-puisi tersebut bergenre romantis yang membahas tentang Tuhan, ada juga tentang peperangan dan yang membuat peneliti menarik menerjemahkan puisi-puisi tersebut adalah beberapa puisi di dalam buku tersebut menggambarkan salah satu kota di Indonesia yang dituangkannya melalui puisi ketika beliau berimigrasi ke Indonesia. Sebagai mahasiswi jurusan Tarjamah, peneliti termotivasi untuk menerjemahkan puisi-puisi di dalam buku al-A’mal as-Syi’riyah al-Kamila. Peneliti merasa selain kumpulan puisi tersebut menceritakan tentang keTuhanan dan salah satu kota di Indonesia, kumpulan puisi tersebut juga berisi petuah bijak serta pedoman hidup. Pada penerjemahan puisi ini, peneliti menggunakan metode penerjemahan semantik. Semantik merupakan ilmu yang mengkaji tentang makna atau tentang arti. Metode penerjemahan semantik yaitu metode penerjemahan yang berorientasi kepada bahasa sumber (Bsu). Jadi, penerjemahan semantik tetap dalam budaya asli dan dan menjadi lebih informatif. Metode ini bersifat fleksibel dan memberi keluasan bagi penerjemah untuk berkreatifitas dan untuk menggunakan intuisinya. Untuk mendapatkan terjemahan yang baik, dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penerjemahan semantik agar pembaca paham dengan maksud yang ingin disampaikan dalam puisi-puisi tersebut.Batasan dan Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah peneliti paparkan di atas agar dapat menemukan masalah yang lebih mendalam dan lebih fokus, penulis membatasi objek penelitian dengan menganalisa bahasa figuratif dalam terjemahan puisi karya Shalih bin Ali Al-Hamid.Setelah itu peneliti merumuskan masalah dengan pertanyaan:Bagaimana penerjemahan puisi karya Shalih bin Ali Al-Hamid dengan menggunakan metode penerjemahan semantik?Apa saja jenis bahasa figuratif yang terdapat pada terjemahan puisi tersebut?Tujuan MasalahMengetahui penerjemahan puisi karya Shalih bin Ali Al-Hamid dengan menggunakan metode penerjemahan semantik.Mengetahui jenis bahasa figuratif pada terjemahan puisi tersebut.Manfaat PenelitianSecara teoritis penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahasa figuratif didalam terjemahan puisi karya Shalih bin Ali Al-Hamid. Sehinga nantinya menambah pengetahuan masyarakat untuk memahami bahasa figuratif yang terkandung didalam terjemahan tersebut. Selain itu agar dapat memudahkan bagi para penerjemah agar lebih memahami bahasa figuratif dalam kegiatan penerjemahan puisi.Penelitian Terdahulu Setelah peneliti mencari dan menelaah berbagai karya-karya ilmiah, peneliti menemukan beberapa penelitian mengenai bahasa figuratif. Penelitian Rahmita Windy Martaningrum (2012), Sukarni (2012), Luthfa Nugraheni (2012), Annisa Sharah Nazh (2013) dan Novita Afrina Putri (2016).Penelitian yang ditulis Rahmita Windy Martaningrum tahun 2012 yang menjelaskan tentang “Bahasa Figuratif dalam Lirik Lagu Album Camellia II Karya Ebiet G.Ade Kajian: Stilistika”. Penelitian ini memiliki pembahasan yang sama yaitu menganalisis bahasa figuratif. Penelitian ini memiliki perbedaan pada objek penelitian yang digunakan Rahmita yaitu lirik lagu sedangkan objek penelitian yang digunakan peneliti yaitu puisi terjemahan. Penelitian yang ditulis Sukarni tahun 2012 yang menjelaskan tentang “Analisis Bahasa Figuratif Dalam Novel Sang Pemimpi Karya Andrea Hirata Sebagai Alternatif Materi Pembelajaran Analisis Gaya Bahasa”. Penelitian ini memiliki pembahasan yang sama yaitu menganalisis bahasa figuratif. Penelitian ini berbeda dalam segi objek penelitian. Objek penelitian yang digunakan Sukarni yaitu novel sedangkan objek penelitian yang digunakan peneliti yaitu puisi terjemahan. Penelitian yang ditulis Luthfa Nugraheni tahun 2012 yang menjelaskan tentang “Bahasa Figuratif dalam Lirik Lagu Pada Album The Very Best Of Iwan Fals Dan Pemaknaannya: Kajian Stilistika Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia di SMA”. Penelitian ini memiliki pembahasan yang sama yaitu menganalisis bahasa figuratif. Perbedaan penelitian ini yaitu objek penelitian. Objek penelitian yang digunakan Luthfa yaitu lirik lagu sedangkan objek penelitian yang digunakan peneliti yaitu puisi terjemahan.Penelitian yang ditulis Annisa Sharah Nazh tahun 2013 menjelaskan tentang “Penggunaan Bahasa Figuratif dan Nilai Pendidikan dalam Novel Ibuk Karya Iwan Setyawan Serta Relevansinya Terhadap Materi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Siswa Kelas VIII SMP”. Penelitian ini mempunyai persamaan dalam pembahasan yaitu menganalisi bahasa figuratif. Perbedaan penelitian ini yaitu terdapat pada objek penelitiannya. Objek penelitian yang digunakan Annisa yaitu novel sedangkan objek penelitian yang digunakan peneliti yaitu puisi terjemahan.Penelitian yang ditulis Novita Arfiana Putri pada tahun 2016 menjelaskan tentang “Bahasa Figuratif dan Citraan dalam Kumpulan Puisi Hujan Bulan Juni Karya Sapardi Djoko Damono Dan Implementasinya Sebagai Bahan Ajar Bahasa Indonesia Di SMA” yang memfokuskan penelitiannya pada kumpulan puisi Hujan Bulan Juni”. Penelitian ini memiliki pembahasan yang sama yaitu menganalisis bahasa figuratif dan citraan. Penelitian ini juga memiliki objek penelitian yang sama yaitu puisi. Namun puisi yang digunakan Novita merupakan puisi berbahasa Indonesia sedangkan puisi yang digunakan peneliti merupakan hasil terjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Kesimpulan dari pemaparan di atas, tidak penulis temukan pembahasan atau penjelasan secara spesifik mengenai bahasa figuratif dalam terjemahan puisi karya  Shalih bin Ali Al-Hamid.Kerangka Teori Penerjemahan bukanlah semata-mata untuk mengalihkan suatu bahasa kedalam bahasa lain akan tetapi terjemah merupakan salah satu kegiatan dalam penyampaian pesan suatu teks bahasa yang kita terjemahkan kedalam bahasa yang lain. Menurut Moh. Mansyur dan Kustiawan “terjemah yaitu mengalihkan makna teks (wacana) dari bahasa sumber (Bsu) kedalam bahasa sasaran (Bsa). Menurut Casagrande yang dikutip oleh Frans Sayogie penerjemahan puisi adalah penerjemahan yang bertujuan mengalihkan pesan serta bentuk estetis puitis yang ada didalam bahasa sumber kepadanannnya didalam bahasa sasaran. Didalam penerjemahan puisi ada tuntutan ganda yaitu pengalihan isi dan pengalihan bentuk harus baik.Metode Penerjemahan Semantik Metode penerjemahan semantik yaitu seorang penerjemah telah lebih luwes dan lebih fleksibel daripada penerjemah yang menggunakan penerjemahan setia. Ia mempertimbangkan unsur estetika Tsu dengan mengkompromikan makna selama masih dalam batas wajar.  Semantik merupakan ilmu yang mengkaji tentang makna atau tentang arti. Penerjemahan semantik berusaha menciptakan rasa yang tepat dan nada yang asli: kata-kata yang ‘sakral’, bukan karena kata-kata lebih penting daripada isi tetapi bentuk dan isi adalah satu. Jadi metode penerjemahan semantik keluar dari ruang dan waktu setempat. Metode ini bersifat fleksibel dan memberi keluasan bagi penerjemah untuk berkreatifitas dan untuk menggunakan intuisinya.Teori Syiir (puisi Arab) Syi’ir (puisi arab) yaitu ucapan atau tulisan yang mewakili wazan atau bahr (mengikuti prosodi atau ritme gaya lama) dan qifayat (ritme akhir atau kesesuaian akhir baris). Bahasa FiguratifBahasa figuratif yaitu satuan kebahasaan yang memiliki makna yang tidak langsung, makna yang terkandung di balik kata yang tertulis (eksplisit). Dalam karya sastra, bahasa figuratif bersifat memancarkan makna lebih dari satu. Pada dasarnya bahasa figuratif digunakan oleh sastrawan untuk menciptakan imajinasi dan daya asosiatif pada pembaca sehingga penggambaran suasana dan pengungkapan terkesan lebih hidup. Bahasa figuratif disebut juga bahasa kias. Bahasa figuratif sendiri terdiri dari majas, tuturan idiomatik dan peribahasa. Bahasa figuratif yang disebut juga dengan gaya bahasa yaitu ekspresi linguistik, baik didalam puisi maupun prosa. Gaya bahasa merupakan salah satu unsur dari sebuah puisi. Gaya bahasa adalah cara khas seseorang dalam mengungkapkan atau menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulisan atau lisan. Bahasa figuratif merupakan suatu bentuk penggunaan makna bahasanya menyimpang dari pemakaian bahasa yang biasa, bahasa yang baku atau urutan kata dalam bahasa dengan tujuan untuk mendapat efek tertentu, yaitu efek keindahan.Penyimpangan tersebut berupa penyimpangan makna, yang artinya makna penggunaan bahasa itu tergolong tidak biasa karena bukan merupakan makna asli atau makna denotatif, melainkan condong kepada makna konotatif. Umumnya, gaya bahasa merupakan sarana yang sengaja atau tidak sengaja ditulis penulis dalam mengekspresikan karyanya. Gaya bahasa yang baik mengandung tiga unsur yaitu kejujuran, sopan santun, dan menarik.  Pembagian gaya bahasa berdasarkan jenis permajasan adalah sebagai berikut: Metafora Metafora yaitu membandingkan tentang dua benda secara singkat dan padat. Metafora sebagai perbandingan langsung tidak mempergunakan kata: seperti, bak, bagai, laksana, dan sebagainya, sehingga pokok pertama langsung dihubungkan dengan pokok kedua. Salah satu ciri metafora yaitu dengan hilangnya kata seperti layaknya, bagaikan, dan sebagainya. Contoh: Jangan menjadi sampah masyarakat (orang yang tidak berguna). Sampah masyarakat langsung disebutkan tanpa kata penghubung seperti, layaknya, dan sebagainya. Contoh lain: Generasi muda adalah tulang punggung negara (generasi muda dianalogikan dengan tulang punggung). HiperbolaHiperbola adalah gaya bahasa yang bersifat melebih-lebihkan suatu kenyataan.Contoh: Suaranya tak kalah dengan guruh yang berkumandang. Suara guruh sangat keras, sementara suara manusia sebenarnya tidak sekeras guruh. Akan tetapi, ketika dikatakan suaranya seperti guruh berarti suaranya keras. Contoh lain: Hatiku hancur mengenang dikau, berkeping-keping jadinya.Personifikasi Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda-benda mati atau barang-barang yang tidak bernyawa seolah-olah memiliki sifat-sifat kemanusiaan.Personifikasi digunakan untuk menghidupkan suasana. Gaya bahasa ini mengungkapkan sesuatu dengan memberikan sifat dan tindak tanduk manusia kepada benda mati atau tidak bernyawa. Seolah-olah benda mati atau tidak bernyawa tersebut seperti manusia. Contoh: Nyiur melambai di tepi pantai. Biasanya manusia yang melambai saat berpisah dengan temannya. Contoh lain: Angin topan mengamuk dan merobohkan puluhan rumah penduduk Desa Suluh.Metodologi PenelitianMetode PenelitianPenelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-deskriptif. Penelitian kualitatif merupakan prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa data tertulis atau lisan di masyarakat bahasa. Penelitian kualitatif disebut juga dengan penelitian alamiah. Sedangkan deskriptif merupakan data yang dikumpulkan berupa kata-kata, gambar, dan bukan angka-angka. Hal itu disebabkan oleh adanya penerapan metode kualitatif.Sumber DataPeneliti menggunakan metode kepustakaan (library  research) yaitu, untuk memperoleh data yang berkaitan dengan penelitian untuk menghasilkan penelitian yang akurat. Sumber data primer yang digunakan oleh peneliti yaitu  puisi karya Shalih bin Ali Al-Hamid yang akan diterjemahkan ke dalam bahasa sasaran (Indonesia). Sedangkan sumber data sekunder terkait dengan penelitian dan dalam proses menerjemahkan, peneliti akan merajuk kepada internet dan buku karya Moch. Syarif Hidayatullah “Seluk Beluk Penerjemahan”, buku karya Burhan Nurgiantoro “Stilistika”, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Adapun kamus yang peneliti gunakan sebagai rujukan dalam menerjemahkan adalah kamus karya Ahmad Warson Munawwir “Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia” dan kamus aplikasi seperti “Al-Ma’any” dan “Mutarjim”.Teknik Pengumpulan DataMetode pengumpulan data yang peneliti lakukan adalah metode catat. Kegiatan dalam teknik ini yaitu mengumpulkan, memilih, memilah dan menata. Pertama, mengumpulkan padanan yang sukar kemudian dicarikan intertekstualnya. Kedua memilah data dengan menggunakan diksi yang tepat.  Ketiga, data dipilah dan ditata dengan mengelompokkannya sesuai konteks data.Analisis DataDalam metode penelitian ini, peneliti memaparkan langkah-langkah analisis agar penelitian ini berjalan secara sistematis dan bertahap. Berikut langkah-langkahnya:Menerjemahkan puisi karya Shalih bin Ali Al-Hamid.Mencari kata yang termasuk kedalam bahasa figuratif.Mengelompokkan kumpulan kata tersebut kedalam jenis-jenis bahasa figuratif.Sistematika Penulisan Demi mendapatkan pemahaman yang komprehensip, maka penulis merasa perlu untuk merumuskan sistematika penelitian skripsi ini. Pembahasan dalam skripsi ini terbagi dalam V bab, dimulai dengan bab I yang merupakan bab pendahulu. Bab ini terdiri dari beberapa sub bab, yaitu: latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan masalah, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian dan sistematika penelitian. Bab berikutnya, bab II merupakan kerangka teori yang berbasis tentang teori yang akan menjadi landasan bagi peneliti. Bab II ini berisi tentang teori penerjemahan puisi, definisi puisi dan teori bahasa figuratif. Selanjutnya adalah bab III, bab III ini merupakan gambaran umum mengenai puisi karya Shalih bin Ali Al-Hamid. Bab IV adalah pokok penelitian yang akan membahas pertanggungjawaban, cara dan metode penerjemahan yang digunakan. Yang terdiri dari tiga sub bab yaitu pendahuluan, terjemahan puisi karya Shalih bin Ali Al-Hamid, dan cara dan metode penerjemahan. Bab V adalah penutup, terdiri dari dua sub yaitu kesimpulan dan rekomendasi.

x

Hi!
I'm Simon!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out