Critical Thinking

Fiqih seseorang yang harus dijalankan maupun dijauhinya karena

Fiqih dalam etimologi ialah ????? (paham) dan menurut terminologi fiqih dapat berartiilmu
agama yang didalamnya mengandung ajaran agama, akidah, akhlak, dan ibadah umat
muslim. Sesuai dengan berkembangnya zaman, fiqih dapat berarti lain yaitu
pengetahuan tentang hukum syari’ah Islamiyah yang berkaitan dengan perbuatan
manusia dewasa dan berakal sehat.

Menurut
Imam Haramain fiqih merupakan suatu hukum yang diperoleh
dari pengalaman manusia dan sesuai dengan akal sehat manusia. Demikian
pula menurut Al-Amidi pengetahuan
hukum dalam fiqih adalah ketentuan atau kewajiban
bagi seseorang yang harus dijalankan maupun dijauhinya karena semua itu sudah
ketentuan dari Allah SWT.

Adapun hukum-hukum fikih yang termuat dalam (Nawawi,
2012:9) yaitu:

1)     
Hukum ibadah (fiqh ibadah) ialah kewajiban umat
terhadap perintah tuhannya contohnya sholat, puasa, zakat, dll.

2)     
Hukum muamalah (fiqh muamalah) adalah hubungan
antar sesama manusia dala, hal bersosialisasi seperti bertransaksi jual beli,
hukum pudana, perdata, dsb.

1.     
Muamalah

Menurut
etimologi, kata muamalah adalah bentuk masdar dari kata’amala yang
artinya saling bertindak, saling berbuat, dan saling mengenal dan secara terminologi muamalah berarti sistem kehidupan.
Muamalah
ialah segala aturan agama untuk mengatur interaksi
manusia dengan manusia tanpa melihat suku, ras, dan budaya yang membedakannya
serta manusia dengan alam. Contoh dari aturan yang
mengatur interaksi manusia dengan manusia ialah tentang perkawinan, perwalian, warisan, wasiat,
hibah perdagangan, perburuan, perkoperasian dll. Aturan agama yang mengatur
hubungan antara manusia dan lingkungannya dapat kita temukan antara lain dalam
hukum Islam tentang makanan, minuman, mata pencaharian, dan cara memperoleh
rizki dengan cara yang dihalalkan atau yang diharamkan. Aturan agama yang mengatur hubunagn antara manusia
dengan alam sekitarnya dapat kita jumpai seperti larangan mengganggu, merusak
dan membinasakan hewan, tumbuhan atau yang lainnya tanpa adanya suatu alasan
yang dibenarkan oleh agama, perintah kepada manusia agar mengadak an penelitian
dan pemikiran tentang keadaan alam semesta.

Fiqih Mumalah adalah pengetahuan tentang kegiatan atau
transaksi yang berdasarkan hukum-hukum syariat, mengenai perilaku manusia dalam
kehidupannya yang diperoleh dari dalil-dalil islam secara rinci. Ruang lingkup
fiqih muamalah adalah seluruh kegiatan muamalah manusia berdasarkan hukum-hukum
islam yang berupa peraturan-peraturan yang berisi perintah atau larangan
seperti wajib, sunnah, haram, makruh ,dan mubah. Hukum-hukum fiqih terdiri dari
hukum-hukum yang menyangkut urusan ibadah dalam kaitannya dengan hubungan
vertikal antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan manusia
lainnya.

A.   
Ruang Lingkup
fiqih muamalat

Ruang lingkup fiqih muamalah mencakup segala
aspek kehidupan manusia, seperti sosial, ekonomi, politik hukum dan
sebagainya. Aspek ekonomi dalam kajian fiqih sering disebut dalam bahasa arab
dengan istilah iqtishady, yang artinya suatu cara bagaimana manusia
dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan membuat pilihan diantara berbagai
pemakaian alat pemuas kebutuhan yang ada, sehingga kebutuhan manusia yang tidak
terbatas dapat dipenuhi oleh alat pemuas kebutuhan yang terbatas. Ruang lingkup fiqh muamalah terbagi dua, yaitu ruang lingkup muamalah
madiyah dan adabiyah. Adapun bidang-bidang ekonomi yang diatur oleh fiqih muamalah yaitu:

 

1)     
Jual Beli

a.     
Pengertian jual beli secara umum

Transaksi antara satu orang dengan orang yang lain yang berupa
tukar-menukar suatu barang dengan barang yang lain berdasarkan tata cara atau
akad tertentu. Pada kenyataanya dalam kehidupan sehari-hari, pengertian dari
jual beli adalah penukaran barang dengan uang. Sedangkan penukaran barang
dengan barang tidak lazim disebut jual beli, melainkan disebut barter.

Terjadinya jual beli karena adanya perbedaan kebutuhan hidup antara
satu orang dengan orang yang lain. Suatu contoh mislanya, satu pihak memiliki
barang, tetapi membutuhkan uang. Sementara itu, pihak yang lain memiliki uang,
tetapi mereka membutuhkan barang. Kedua belah pihak tersebut dalam contoh di
atas, dapat mengadakan kerja sama di antara keduanya dalam bentuk jual beli
atas dasar sama-sama rela. Dengan kerja sama jual beli itu, kebutuhan
masing-masing pihak dapat terpenuhi.

 

b.     
Rukun dan
syarat jual beli

Untuk
tercapainya suatu kegiatan jual beli tentunya harus dapat memenuhi syarat dan
rukun yang telah ada, berikut rukun dan syarat jual beli:

·        
Rukun jual beli

a)     
Akad (ijab qabul) ialah ikatan kata antara penjual dan pembeli. Jual beli
belum dikatakan sah sebelum ijab dan qabul dilakukan sebab ijab qabul
menunjukkan kerelaan (keridhaan). Ijab qabul boleh dilakukan dengan lisan dan
tulisan. Ijab qabul dalam bentuk perkataan dan/atau dalam bentuk
perbuatan yaitu saling memberi (penyerahan barang dan penerimaan uang).

b)     
Orang-orang yang berakad (subjek) – ???????

c)     
Ma’kud ‘alaih (objek)

d)    
Ada nilai tukar pengganti barang

·        
Syarat jual beli

1.     
Berhadap-hadapan

2.     
Ditujukan pada seluruh badan yang akad

3.     
Qabul diucapkan oleh orang yang dituju dalam ijab

4.     
Harus menyebutkan barang dan harga

5.     
Ketika mengucapkan shighat harus disertai niat (maksud)

6.     
Pengucapan ijab dan qabul harus sempurna

7.     
Ijab qabul tidak terpisah

8.     
Antara ijab dan qabul tidak terpisah dengan pernyataan lain

9.     
Tidak berubah lafazh

10.  Bersesuaian antara ijab dan
qabul secara sempurna

11.  Tidak dikaitkan dengan
sesuatu

12.  Tidak dikaitkan dengan waktu

 

2)     
Akad

1.     
Pengertian akad

Kata akad berasal dari kata bahasa Arab ???? yang berarti, membangun ???  atau mendirikan,
memegang, perjanjian, percampuran, menyatukan. Bisa juga berarti kontrak
(perjanjian yang tercacat). Sedangkan menurut al-Sayyid Sabiq akad berarti
ikatan atau kesepakatan. Secara etimologi akad adalah ikatan antara dua
perkara, baik ikatan secara nyata maupun ikatan secara maknawi, dari satu segi
maupun dari dua segi. Secara terminologi, ulama fiqih membagi akad dilihat dari
dua segi, yaitu secara umum dan secara khusus. Akad secara umum adalah segala
sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang berdasarkan keinginannya sendiri,
seperti wakaf, talak, pembebasan, atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan
keinginan dua orang, seperti jual-beli, perwakilan dan gadai.

2.     
Syarat dan rukun akad

Adapun syarat dan rukun akad agar akad tersebut bisa
terlaksana dengan baik dan berjalan dengan lancar untuk memperoleh keberkahan
dari akad tersebut. Syarat dan rukun tersebut ialah :

a.      
Aqidan (orang yang berakad)

b.     
Ma’qud ‘alayh (barang)

c.      
Sighat (ijab dan qabul)

3.     
Macam-macam akad

Dalam hal
pembagian akad ini, ada beberapa macam akad yang didasarkan atas sudut pandang
masing-masing, yaitu:

a)Berdasarkan ketentuan syara’

1.     
Akad sahih, yaitu akad yang memenuhi unsur dan
syarat yang telah ditetapkan oleh syara’. Akad yang memenuhi rukun dan syarat
sebagaimana telah disebutkan di atas, maka akad tersebut masuk dalam kategori
akad sahih.

2.     
Akad ghairu sahih, yaitu akad yang tidak
memenuhi unsur dan syaratnya. Dengan demikian, akad semacam ini tidak berdampak
hukum atau tidak sah.

b)     
Berdasarkan penamaannya

1.      Akad
yang sudah diberi nama oleh syara’, seperti jual-beli, hibah, gadai, dll

2.      Akad
yang belum dinamai oleh syara’, tetapi disesuaikan dengan perkembangan zaman.

c)     
Berdasarkan zatnya

1.      Benda
yang berwujud (al-‘ain), yaitu benda yang dapat dipegang oleh indra kita,
seperti sepeda, uang, rumah dan lain sebagainya.

2.      Benda
tidak berwujud ( ghair al-‘ain), yaitu benda yang tidak dapat kita indra dengan
indra kita, namun manfaatnya dapat kita rasakan, seperti informasi, lisensi,
dan lain sebagainya.

4.     
Obyek akad

Obyek akad adalah sesuatu yang dijadikan obyek akad dan
dikenakan padanya akibat hukum yang ditimbulkan. Bentuk obyek akad dapat berupa benda yang
berwujud seperti mobil dan rumah, maupun benda tak berwujud, seperti manfaat.
Adapun syarat-syarat obyek akad adalah:

1)     
Obyek perikatan telah ada sebelum akad
dilangsungkan

2)     
Obyek perikatan dibenarkan oleh syari’ah

3)     
Obyek akad harus jelas dan dikenali

4)     
Obyek dapat diserah terimakan

5.     
Tujuan akad

Kaidah umum dalam ajaran Islam menentukan bahwa setiap
orang yang melakukan perbuatan dalam keadaan sehat akal dan bebas menentukan
pilihan (tidak dipaksa) pasti memiliki tujuan tertentu yang mendorongnya
melakukan perbuatan itu. Oleh karena itu, tujuan akad menduduki peranan penting
untuk menentukan suatu akad dipandang sah atau tidak, halal atau haram. Ini
semua berkaitan dengan hubungan niat dan perkataan dalam akad. Bahkan
perbuatanperbuatan bukan akad pun dapat dipengaruhi halal dan haramnya dari tujuan
yang mendorong perbuatan itu dilakukan. Misalnya, tidur siang, apabila motifnya
adalah agar pada malam harinya tahan tidak tidur untuk bermain judi, maka tidur
siang itu menjadi haram.

 

3)     
Ariyah

a)     
Pengertian ‘ariyah

Pinjaman atau ‘ariyah menurut bahasa adalah pinjaman.
Secara umum pengertian ‘ariyah adalah memberikan manfaat suatu barang dari
seseorang kepada orang lain secara cuma-cuma (gratis). Bila digantikan dengan
sesuatu atau ada imbalannya, hal itu tidak dapat disebut ‘ariyah.

b)    
Dasar Hukum ‘ariyah

Menurut Sayyid Sabiq, tolong menolong (ariyah)
adalah sunnah.  Sedangkan menurut
al-Ruyani,sebagaimana dikutip oleh Taqiy al-Din, bahwa ariyah hukumnya wajib
ketika awal islam.

c)     
Syarat dan Rukun ‘ariyah

a.      
Syarat-syarat ‘ariyah:

1)      Muir berakal sehat. Dengan
demikian, orang gila dan anak kecil yang tidak berakal tidak dapat meminjamkan
barang.

2)      Pemegang barang oleh
peminjam

3)      Barang (musta’ar). Dapat
dimanfaatkan tanpa merusak zatnya, jika musta’ar tidak dapat dimanfaatkan, akad
tidak sah.

b.     
Rukun ‘ariyah yaitu:

1)     
Mu’ir adalah pihak yang meminjamkan atau
mengizinkan penggunaan manfaat barang pinjaman.

2)     
Musta’ir adalah pihak yang meminjamkan atau mendapat izin
penggunaan manfaat barang.

3)     
Musta’ar adalah barang yang dipinjamkan, atau barang yang
manfaatnya diizinkan untuk dipergunakan musta’ir.

4)     
Shighahdalam akad ‘ariyah adalah bahasa interaksi
meliputi ijab dan qabul yang menunjukkan perizinan penggunaan manfaat barang.

c.      
Macam-macam ‘Ariyah

Ditinjau dari kewenangannya, akad pinjaman meminjam
(‘ariyah) pada umumnya dapat dibedakan menjadi dua macam :

1.     
‘Ariyah Muqayyadah

Yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat terikat
dengan batasan tertentu. Misalnya peminjaman barang yang dibatasi pada tempat
dan jangka waktu tertentu. Dengan demikian, jika pemilik barang mensyaratkan pembatasan
tersebut, berarti tidak ada pilihan lain bagi pihak peminjam kecuali
mentaatinya. ‘ariyah ini biasanya berlaku pada objek yang berharta, sehingga
untuk mengadakan pinjam-meminjam memerlukan adanya syarat tertentu.

2.     
‘Ariyah Mutlaqah

Yaitu bentuk pinjam meminjam barang yang bersifat tidak
dibatasi. Melalui akad ‘ariyah ini, peminjam diberi kebebasan untuk
memanfaatkan barang pinjaman, meskipun tanpa ada pembatasan tertentu dari
pemiliknya. Biasanya ketika ada pihak yang membutuhkan pinjaman, pemilik barang
sama sekali tidak memberikan syarat tertentu terkait obyek yang akan
dipinjamkan. Contohnya seorang meminjamkan kendaraan, namun dalam akad tidak
disebutkan hal-hal yang berkaitan dengan penggunaan kendaraan tersebut,
misalnya waktu dan tempat mengendarainya. Namun demikian harus disesuaikan
dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakat. Tidak boleh menggunakan kendaraan
tersebut siang malam tanpa henti. Jika penggunaannya tidak sesuai dengan
kebiasaan dan barang pinjaman rusak maka mu’ir harus bertanggung jawab.

 

C.   
Hubungan antara fiqih muamalah dengan ekonomi syariah

          

1.   PENGERTIAN EKONOMI ISLAM

Ekonomi Islam merupakan
ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur
berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum
dalam rukun iman dan rukun Islam. Sedangkan menurut Mursyid Al-Idrisiyyah
mendefinisikan ekonomi Islam dengan menggunakan kalimat-kalimat sederhana,
yaitu seluruh bentuk kegiatan ekonomi yang berdasarkan prinsip-prinsip Islam
yang bersumber kepada Al Quran dan As Sunah yang di-ijtihadi oleh
mursyid.

2.     
PENGERTIAN FIQIH MUAMALAH

Muamalah adalah
pertukaran harta dan yang berhubungan dengannya, seperti al-bai’ (jual-beli),
as-salam, al-ijaarah (sewa-menyewa), syarikat (perkongsian), ar-rahn (gadai),
al-kafaalah, al-wakalah (perwakilan), dan sejenisnya. Sedangkan Fiqh muamalah
adalah aturan-aturan (hukum) Allah SWT, yang ditujukan untuk mengatur kehidupan
manusia dalam urusan keduniaan atau urusan yang berkaitan dengan urusan duniawi
dan sosial kemasyarakatan.

3.     
HUBUNGAN EKONOMI ISLAM DENGAN FIQIH MUAMALAH

Muamalah adalah
medan hidup yang sudah tersentuh oleh tangan-tangan manusia sejak zaman klasik,
bahkan zaman purbakala. Setiap orang membutuhkan harta yang ada di tangan orang
lain. Hal ini membuat manusia berusaha membuat beragam cara pertukaran, bermula
dengan kebiasaan melakukan tukar menukar barang yang disebut barter, berkembang
menjadi sebuah sistem jual-beli yang kompleks dan multidimensional.
Perkembangan itu terjadi karena semua pihak yang terlibat berasal dari latar
belakang yang berbeda, dengan karakter dan pola pemikiran yang bermacam-macam,
dengan tingkat pendidikan dan pemahaman yang tidak sama. Baik itu pihak pembeli
atau penyewa, penjual atau pemberi sewa, yang berutang dan berpiutang, pemberi
hadiah atau yang diberi, saksi, sekretaris atau juru tulis, hingga calo atau
broker. Semuanya menjadi majemuk dari berbagai kalangan dengan berbagai latar belakang
sosial dan pendidikan yang variatif. Selain itu, transaksi muamalah juga
semakin berkembang sesuai dengan tuntutan zaman. Sarana atau media dan
fasilitator dalam melakukan transaksi juga kian hari kian canggih. Sementara
komoditi yang diikat dalam satu transaksi juga semakin bercorak-ragam,
mengikuti kebutuhan umat manusia yang semakin konsumtif dan semakin terikat
tuntutan zaman yang juga kian berkembang.

Bagi seorang
muslim, dibutuhkan syarat dan prasyarat yang lebih banyak untuk menjadi
wirausahawan dan pengelola modal yang berhasil, karena seorang muslim selalu
terikat. Selain dengan kode etik ilmu perdagangan secara umum dengan aturan dan syariat
Islam dengan hukum-hukumnya yang komprehensif. Oleh sebab itu,
tidak selayaknya seorang muslim memasuki dunia bisnis dengan pengetahuan kosong
terhadap ajaran syariat dalam soal jual beli yang demikian itu merupakan
sasaran empuk ambisi setan pada diri manusia untuk menjerumuskan seorang muslim
dalam kehinaan.